prettytime
Skincare

Jenis Chemical Peeling Sesuai Keluhan Jerawat, Pigmentasi, dan Pori-Pori: Perbedaan AHA, BHA, TCA, dan Karakteristiknya

By Dr. Lee9 min read

Peeling memang mudah ditemukan di rak kosmetik, tapi chemical peeling yang dipakai di klinik dermatologi punya jangkauan kerja dan kekuatan yang jauh berbeda tergantung jenis asamnya. AHA seperti glycolic acid dan lactic acid adalah asam yang larut dalam air, jadi bekerja di antara sel-sel kulit mati yang mengandung air seperti lapisan kulit ari, sehingga merapikan permukaan kulit. Sebaliknya, BHA yang diwakili oleh salicylic acid punya sifat larut dalam minyak, sehingga bisa menembus lebih dalam ke pori-pori yang tersumbat sebum.

Trichloroacetic acid (TCA) bisa mengatur kedalaman pengelupasan kulit hanya dengan mengubah konsentrasinya. Larutan Jessner dan mandelic acid masing-masing sudah dikenal sebagai tahap persiapan untuk tindakan kedalaman menengah dan alternatif untuk kulit sensitif. Kalau keluhannya berbeda, seperti jerawat, pigmentasi, atau pori-pori besar, asam dan kedalaman yang cocok juga berbeda, dan perbedaan ini terlihat jelas dari angka perbaikan serta masa pemulihan yang tercatat dalam studi klinis.

Chemical peeling terbagi jadi apa saja berdasarkan kandungannya?

Chemical peeling bekerja dengan cara dan kedalaman yang berbeda tergantung jenis asam yang dipakai. AHA adalah asam yang larut dalam air, seperti glycolic acid dan lactic acid. Larut dalam air di sini artinya, seperti air yang membilas wajah saat cuci muka, asam ini melonggarkan ikatan antar sel kulit mati sehingga permukaan kulit jadi lebih halus.

BHA diwakili oleh salicylic acid. Karena punya sifat larut dalam minyak, seperti noda minyak yang dibersihkan dengan sabun berbahan minyak, asam ini bisa meresap sampai ke dalam pori-pori yang penuh sebum. Karena itu, BHA sering dipakai untuk merawat jerawat.

TCA adalah singkatan dari trichloroacetic acid, yaitu asam yang kedalaman pengelupasannya bisa diatur sesuai keinginan hanya dengan mengubah konsentrasi. Larutan Jessner adalah campuran salicylic acid, lactic acid, dan resorcinol. Larutan ini bisa dipakai sendiri, tapi juga sering dioleskan sebelum TCA sebagai tahap persiapan untuk melunakkan sedikit stratum korneum, yaitu lapisan tipis sel kulit mati yang menutupi permukaan paling luar kulit. Mandelic acid punya ukuran molekul yang lebih besar dibanding AHA lain sehingga diserap kulit secara perlahan. Molekul yang lebih besar ini tidak langsung masuk sekaligus, melainkan menyebar pelan-pelan, sehingga iritasinya lebih ringan dan bisa jadi pendekatan yang relatif lembut untuk kulit sensitif atau keluhan pigmentasi.

Dalam praktik klinis, dokter lebih sering memakai dua sampai tiga jenis asam secara berlapis sesuai kondisi dan keluhan kulit, dibanding hanya memakai satu jenis asam saja. Misalnya, AHA atau BHA dipakai lebih dulu untuk mengelupas permukaan kulit secara ringan, lalu mandelic acid ditambahkan kalau ada masalah pigmentasi. Apa pun asam yang dipilih, cara paling aman adalah memulai dari konsentrasi rendah untuk melihat reaksi kulit, baru kemudian menaikkan tahapannya.

JenisKandungan utamaKarakteristikKegunaan utama
AHAGlycolic acid, lactic acidLarut air, merapikan permukaan kulitTekstur kulit, flek
BHASalicylic acidLarut minyak, menembus poriJerawat, komedo
TCATrichloroacetic acidKedalaman diatur lewat konsentrasiPigmentasi, bekas luka
JessnerSalicylic acid+lactic acid+resorcinolLarutan campuran, untuk pra-perawatanPersiapan kedalaman menengah
MandelicMandelic acidMolekul besar, iritasi rendahKulit sensitif, pigmentasi

Batang ini menunjukkan proporsi pasien dengan perbaikan sempurna atau jelas terlihat. Sisi wajah yang diberi glycolic acid 40% menunjukkan respons baik pada 92% pasien, sedangkan sisi yang hanya diberi plasebo tanpa kandungan aktif apa pun hanya 40%. Semakin panjang batang, semakin besar responsnya, dan hanya dengan menambahkan asam aktif saja, perbedaannya sudah sangat besar.
Batang ini menunjukkan proporsi pasien dengan perbaikan sempurna atau jelas terlihat. Sisi wajah yang diberi glycolic acid 40% menunjukkan respons baik pada 92% pasien, sedangkan sisi yang hanya diberi plasebo tanpa kandungan aktif apa pun hanya 40%. Semakin panjang batang, semakin besar responsnya, dan hanya dengan menambahkan asam aktif saja, perbedaannya sudah sangat besar.

Seberapa efektif peeling glycolic acid untuk jerawat?

Dalam studi terhadap 26 pasien dengan jerawat tingkat sedang, satu sisi wajah diberi glycolic acid 40% (pH 2,0) dan sisi lainnya diberi plasebo, masing-masing 5 kali dengan jarak 2 minggu. Hasilnya, sisi yang diberi glycolic acid menunjukkan perbaikan sangat baik atau baik pada 92% kasus, sedangkan sisi yang diberi plasebo hanya 40%. Responsnya lebih jelas terlihat pada lesi komedo tanpa peradangan.

Glycolic acid punya ukuran molekul yang tergolong kecil di antara asam lainnya, sehingga bisa meresap dalam sampai ke stratum korneum, yaitu lapisan tipis sel kulit mati yang menutupi permukaan paling luar kulit. Asam ini melonggarkan ikatan antar sel kulit mati sehingga mengelupas sel-sel yang menyumbat pori, dan kalau proses ini diulang, pori-pori jadi lebih terbuka dan peradangan baru lebih jarang muncul. Lactic acid juga termasuk golongan AHA dengan cara kerja serupa, tetapi molekulnya sedikit lebih besar dan punya efek melembapkan, sehingga sering jadi alternatif untuk kulit yang mudah iritasi.

Kedua kandungan ini paling aman dimulai dari konsentrasi rendah, lalu dinaikkan bertahap sambil melihat sejauh mana kulit sudah terbiasa. Di awal biasanya muncul sensasi perih dan kemerahan sesaat, tapi umumnya mereda dalam satu sampai dua hari.

Sejauh mana peeling menembus, dari epidermis sampai dermis?

Efektivitas dan masa pemulihan peeling lebih ditentukan oleh seberapa dalam ia menembus, bukan sekadar jenis asamnya. Supaya lebih mudah dipahami, bayangkan kulit seperti kue berlapis-lapis. Paling atas ada stratum korneum, di bawahnya epidermis, lebih dalam lagi dermis papiler, dan yang paling dalam adalah dermis retikuler.

Peeling superfisial hanya memengaruhi stratum korneum dan lapisan sel epidermis. Kalau diibaratkan kue, ini seperti hanya mengangkat sedikit krim di permukaannya saja. Peeling kedalaman menengah menimbulkan kerusakan pada seluruh epidermis sampai dermis papiler sehingga jaringan tersebut terbentuk kembali. Peeling paling dalam turun sampai dermis retikuler, atau hampir ke lapisan paling bawah kue tersebut, dan bagian ini termasuk area yang bahkan di klinik pun ditangani dengan sangat hati-hati.

TCA adalah asam unik karena dari asam yang sama, ketiga tingkat kedalaman itu bisa dibentuk hanya dengan mengatur konsentrasinya. Konsentrasi 10-20% berhenti di epidermis dan dermis papiler bagian dangkal, sehingga mendekati peeling superfisial. Konsentrasi 25-35% mencapai bagian tengah dermis papiler dan jadi standar untuk peeling kedalaman menengah. Kalau larutan Jessner dioleskan lebih dulu untuk menipiskan stratum korneum, lalu TCA dioleskan di atasnya, teknik yang disebut kombinasi Jessner ini bisa menghasilkan efek kedalaman menengah secara stabil tanpa perlu menaikkan konsentrasi TCA lebih tinggi lagi.

TCA konsentrasi tinggi di atas 40% atau peeling fenol digolongkan sebagai peeling dalam yang mencapai dermis retikuler. Namun, karena risiko bekas luka yang lebih besar, peeling ini hanya ditangani dalam situasi terbatas, bukan untuk tujuan kecantikan umum.

KedalamanLapisan yang dicapaiMetode utamaMasa pemulihan
SuperfisialStratum korneum, epidermisAHA, BHA, TCA 10-20%1-7 hari
MenengahSeluruh epidermis, dermis papilerTCA 25-35%, kombinasi Jessner7-14 hari
DalamDermis retikulerTCA konsentrasi tinggi, fenol14 hari lebih

Batang ini menunjukkan persentase penurunan tiap jenis lesi setelah 6 kali peeling salicylic acid 30%. Komedo hitam dan putih turun 88,45%, sedangkan papul meradang kemerahan turun 89,16%, jadi hasil paling baik. Sebaliknya, pustula bernanah dan nodul serta kista yang lebih dalam masing-masing hanya turun 31,47% dan 50%, menunjukkan respons yang lebih besar pada lesi dangkal dan kecil.
Batang ini menunjukkan persentase penurunan tiap jenis lesi setelah 6 kali peeling salicylic acid 30%. Komedo hitam dan putih turun 88,45%, sedangkan papul meradang kemerahan turun 89,16%, jadi hasil paling baik. Sebaliknya, pustula bernanah dan nodul serta kista yang lebih dalam masing-masing hanya turun 31,47% dan 50%, menunjukkan respons yang lebih besar pada lesi dangkal dan kecil.

Kenapa peeling salicylic acid disebut sebagai dasar perawatan jerawat?

Salicylic acid punya sifat larut dalam minyak. Karena itu, ia bisa menembus stratum korneum yang banyak mengandung air, lalu mencapai kelenjar minyak di dalam pori-pori yang penuh sebum. Di sana, salicylic acid melunakkan sel kulit mati sekaligus memberi efek antiinflamasi, sehingga sangat cocok untuk kulit berminyak atau berjerawat.

Dalam studi yang melakukan peeling salicylic acid 30% sebanyak 6 kali dengan jarak 2 minggu, lesi non-inflamasi seperti komedo hitam dan putih turun 88,45%, sedangkan papul meradang yang kemerahan turun 89,16%. Namun, pustula bernanah hanya turun 31,47%, dan lesi dalam seperti nodul serta kista hanya turun 50%. Artinya, semakin dangkal dan kecil lesinya, semakin besar responsnya.

Studi yang membandingkan langsung dengan glycolic acid juga menemukan bahwa salicylic acid cenderung meredakan lesi meradang lebih cepat. Dalam studi yang membandingkan dengan mandelic acid 45%, tingkat perbaikan keseluruhan dari kedua kandungan ini ternyata mirip. Hanya saja, mandelic acid menimbulkan iritasi dan sensasi panas yang lebih sedikit, sehingga dianggap sebagai alternatif yang lebih lembut.

Peeling apa yang cocok untuk pigmentasi dan pori-pori?

Setiap keluhan punya jenis peeling yang paling cocok. Kalau jerawat jadi masalah utama, asam yang larut minyak dan bisa mencapai pori-pori seperti salicylic acid direkomendasikan sebagai pilihan pertama. Untuk keluhan pigmentasi seperti kulit kusam, melasma, atau flek, asam yang mempercepat pergantian sel kulit mati menjadi sel baru, seperti glycolic acid atau mandelic acid, lebih sering dipakai.

Dalam studi terhadap pasien melasma yang membandingkan glycolic acid 35% dengan peeling kombinasi salicylic acid-mandelic acid, tingkat perbaikan kedua metode ternyata mirip. Peeling kombinasi menimbulkan iritasi yang lebih sedikit. Kalau pori-pori membesar dan tekstur kulit kasar, TCA kedalaman menengah atau kombinasi Jessner bisa membantu merangsang kolagen di dermis, yaitu protein yang menopang kekencangan kulit, sehingga tekstur kulit jadi lebih rapi.

Untuk masalah lokal seperti bekas jerawat, ada metode tersendiri yang menyasar area sempit saja, bukan peeling yang dioleskan ke seluruh wajah. Kalau ada beberapa keluhan yang menumpuk sekaligus, lebih aman memprioritaskan keluhan yang paling menonjol dulu, daripada mencoba menyelesaikan semuanya sekaligus, karena cara ini mengurangi iritasi sekaligus tetap bisa melihat hasilnya.

KeluhanRekomendasi utamaBukti
JerawatBHA salicylic acidPenurunan lesi hingga 89%
Pigmentasi, melasmaAHA glycolic acid, mandelic acidPerbaikan setara peeling kombinasi
Pori-pori, teksturTCA kedalaman menengah, kombinasi JessnerMerangsang kolagen dermis
Bekas luka lokalTCA CROSSDijelaskan di bagian bawah

Momen pengolesan larutan peeling pada area tertentu di meja tindakan
Setiap potongan diagram donat ini menunjukkan proporsi tingkat perbaikan pada pasien bekas jerawat tipe ice pick yang menjalani TCA CROSS 100% sebanyak 4 kali. Pasien dengan perbaikan lebih dari 70% paling banyak yaitu 73,3%, disusul 20% pasien dengan perbaikan antara 50 sampai 70%. Sisanya, sebagian kecil hanya mengalami perbaikan antara 30 sampai 49%.
Setiap potongan diagram donat ini menunjukkan proporsi tingkat perbaikan pada pasien bekas jerawat tipe ice pick yang menjalani TCA CROSS 100% sebanyak 4 kali. Pasien dengan perbaikan lebih dari 70% paling banyak yaitu 73,3%, disusul 20% pasien dengan perbaikan antara 50 sampai 70%. Sisanya, sebagian kecil hanya mengalami perbaikan antara 30 sampai 49%.

Bagaimana TCA dipakai secara berbeda untuk bekas luka yang sempit dan dalam?

Bekas luka yang sempit dan dalam seperti tipe ice pick sulit dijangkau sampai ke dasarnya hanya dengan peeling yang dioleskan ke seluruh wajah. TCA CROSS, sesuai namanya, adalah metode yang secara kimiawi merekonstruksi ulang hanya titik bekas luka tersebut. TCA konsentrasi tinggi 90 sampai 100% dioleskan sedikit dengan ujung tusuk gigi, hanya menyentuh bagian dalam bekas luka. Kulit normal di sekitarnya tidak disentuh, hanya dasar bekas luka yang dibuat meradang secara lokal, sehingga kolagen baru terbentuk di titik tersebut.

Dalam studi yang melakukan TCA 100% sebanyak 4 kali dengan jarak 2 minggu, 73,3% pasien menunjukkan perbaikan jelas lebih dari 70%. Sebanyak 20% menunjukkan perbaikan baik antara 50 sampai 70%. Hanya sebagian kecil yang tidak menunjukkan perbaikan berarti.

Berbeda dari peeling yang dioleskan ke seluruh wajah, karena hanya bekerja secara lokal, risiko pigmentasi menyebar ke area yang luas relatif lebih rendah. Namun, karena konsentrasinya sangat tinggi, dibutuhkan keterampilan tangan yang presisi untuk mengoleskan sedikit larutan tepat di titik yang benar, dan setelah tindakan, kulit akan mengalami proses pemulihan berupa keropeng yang terbentuk lalu lepas dalam waktu sekitar satu minggu.

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Back to articles