Cara Kerja Karboksiterapi Melancarkan Aliran Darah dan Mengecilkan Lemak dengan Karbon Dioksida, Jumlah Sesi, dan Area Penerapannya
By Dr. Kim7 min read

Mendengar ada gas yang sengaja dimasukkan ke dalam tubuh mungkin terasa asing. Padahal karboksiterapi sudah ada sejak lama, berawal dari terapi air panas alami di Prancis, dan kini menjadi salah satu prosedur untuk mengelola lemak serta sirkulasi darah. Caranya, dengan jarum yang sangat halus, gas karbon dioksida medis disuntikkan sedikit demi sedikit ke lapisan lemak tepat di bawah kulit.
Yang perlu dipahami, karbon dioksida itu sendiri tidak membakar lemak secara langsung. Perannya lebih sebagai sinyal yang memberi tahu tubuh untuk memompa sirkulasi lebih giat. Mengikuti sinyal itu, aliran darah meningkat, dan aliran darah yang lebih deras membawa lebih banyak oksigen serta nutrisi ke area tersebut, sehingga tercipta kondisi yang mendukung pemecahan lemak dan pemulihan jaringan. Berikut penjelasan mengapa hal ini terjadi dan mengapa dipakai untuk area tertentu.
Mengapa Pembuluh Darah Melebar Saat Karbon Dioksida Disuntikkan?
Pembuluh darah dalam tubuh kita selalu memantau kadar karbon dioksida di sekitarnya. Semakin aktif sel bekerja, semakin banyak karbon dioksida yang dihasilkan, sehingga tubuh menganggap area dengan kadar karbon dioksida tinggi sebagai area yang sedang kekurangan oksigen. Sebagai respons, pembuluh darah di area itu melebar dengan sendirinya untuk mengalirkan lebih banyak darah. Ini mirip seperti proyek konstruksi yang kekurangan tenaga kerja, lalu segera dikirim tambahan pekerja.
Karboksiterapi memicu reaksi ini secara sengaja. Ketika karbon dioksida disuntikkan ke lapisan lemak di bawah kulit, kadar karbon dioksida di area lokal itu naik drastis dalam sekejap. Tubuh menganggap ini sebagai kondisi darurat kekurangan oksigen, lalu melebarkan pembuluh darah kecil di area tersebut agar lebih banyak darah mengalir. Fenomena ini disebut vasodilatasi, yang secara sederhana berarti pipa pembuluh darah menjadi lebih besar sehingga bisa dilalui darah dalam jumlah lebih banyak.
Karbon dioksida yang disuntikkan tidak bertahan lama di dalam tubuh. Gas ini biasanya keluar secara alami lewat darah dan paru-paru dalam waktu 10 hingga 20 menit. Namun, efek peningkatan aliran darah yang tercipta dalam waktu singkat itu justru tetap berlanjut selama 2 hingga 3 hari setelah prosedur. Jadi perlu diingat, kunci utama karboksiterapi bukan pada gas itu sendiri, melainkan pada peningkatan aliran darah yang dipicu oleh gas tersebut.
Bagaimana Pembuluh Darah yang Melebar Berhubungan dengan Pemecahan Lemak?
Jaringan lemak pada dasarnya bukan jaringan dengan pembuluh darah yang padat. Karena itu, area yang banyak menyimpan lemak cenderung memiliki sirkulasi darah yang lebih lambat dibanding jaringan lain. Ketika sirkulasi melambat, energi yang tersimpan di dalam sel lemak sulit keluar, dan sisa metabolisme pun lebih lambat dibersihkan.
Saat aliran darah meningkat berkat karboksiterapi, kondisi ini berubah. Darah yang bersirkulasi lebih aktif membawa oksigen dan nutrisi lebih sering ke sekitar sel lemak, sekaligus mengangkut lebih cepat produk sampingan hasil pemecahan lemak. Bayangkan seperti kolam air yang tergenang, lalu dibuatkan saluran baru agar airnya mengalir. Sama seperti air yang terus mengalir jadi tidak mudah membusuk, sirkulasi yang lancar membuat lingkungan di sekitar sel lemak tidak lagi stagnan.
Selain itu, rangsangan fisik dari gas yang disuntikkan, yang membuat jaringan lemak sedikit mengembang dan tertekan, juga ikut berperan. Rangsangan ini dilaporkan dapat memicu reaksi enzim yang memecah lemak tersimpan di dalam sel lemak. Jadi bisa dipahami bahwa sinyal kimiawi dan rangsangan fisik saling melengkapi untuk menciptakan kondisi yang mendukung pemecahan lemak.
Apa yang Terjadi di Dalam Sel Lemak Saat Oksigen Meningkat?
Proses mengubah lemak dari energi tersimpan menjadi bentuk yang benar-benar bisa digunakan tubuh disebut lipolisis. Proses ini melewati beberapa tahap, dan sebagian besar tahapnya membutuhkan oksigen. Pada kondisi kekurangan oksigen, reaksi ini berjalan lebih lambat.
Ketika aliran darah meningkat berkat karboksiterapi, jumlah oksigen yang sampai ke area tersebut ikut bertambah. Tambahan oksigen ini menyediakan bahan bakar yang lebih memadai untuk proses lipolisis. Ditambah lagi, karbon dioksida sendiri membantu hemoglobin dalam darah melepaskan oksigen ke jaringan dengan lebih mudah, sebuah fenomena fisiologis yang juga turut berperan. Hemoglobin pada dasarnya adalah pengangkut yang membawa oksigen berkeliling tubuh, tetapi saat kadar karbon dioksida di sekitarnya naik, hemoglobin akan lebih mudah melepaskan oksigen yang dibawanya. Ini mirip seperti kurir yang mempercepat proses menurunkan paket begitu sampai dekat alamat tujuan.
Pada akhirnya, peningkatan aliran darah dan peningkatan pasokan oksigen bekerja bersamaan untuk menciptakan kondisi yang mendukung pemecahan dan pengeluaran lemak yang tersimpan di dalam sel. Namun, perubahan ini biasanya tidak langsung terlihat jelas dari satu kali prosedur, melainkan terakumulasi secara bertahap melalui 6 hingga 10 kali sesi.
Mengapa Karboksiterapi Digunakan untuk Mengatasi Selulit?
Selulit adalah kondisi permukaan kulit yang terlihat bergelombang, dan paling sering muncul di area paha atau bokong. Penyebabnya tidak tunggal, tetapi diketahui bahwa sirkulasi yang lambat di area tersebut, dikombinasikan dengan struktur jaringan ikat yang mendorong sel lemak ke atas secara tidak merata, sama-sama berperan. Ketika sirkulasi melambat, cairan dan sisa metabolisme mudah menumpuk di antara jaringan, dan hal ini membuat permukaan kulit terlihat lebih bergelombang, seperti bengkak.
Karboksiterapi mendekati masalah ini dengan cara melancarkan sirkulasi yang tersumbat tersebut. Saat aliran darah meningkat, jalur untuk mengalirkan cairan dan sisa metabolisme yang tadinya menggenang menjadi lebih lebar, dan ada laporan bahwa hal ini membantu meredakan gelombang di permukaan kulit. Ditambah dengan efek mengecilnya volume sel lemak, permukaan kulit pun bisa tampak lebih halus.
Namun, karena selulit memiliki penyebab yang berlapis-lapis, akan lebih realistis jika karboksiterapi dipandang sebagai salah satu bagian dari perbaikan sirkulasi, bukan sebagai solusi tunggal yang bisa menghilangkan selulit sepenuhnya.
Dengan Prinsip Apa Karboksiterapi Membantu Bekas Stretch Mark?
Stretch mark terbentuk saat kulit meregang terlalu cepat dalam waktu singkat, sehingga serat kolagen di lapisan dermis tidak sempat mengikuti dan akhirnya putus. Kolagen sendiri adalah protein yang berfungsi seperti tiang penyangga yang membuat kulit kencang, dan area tempat tiang ini putus akan terisi oleh jaringan bekas luka yang tipis dan lemah. Karena itu, area stretch mark cenderung memiliki pembuluh darah lebih sedikit dan proses regenerasinya lebih lambat dibanding kulit sekitarnya.
Karboksiterapi mendekati area ini dengan cara yang sama, yaitu meningkatkan sirkulasi. Saat aliran darah meningkat, fibroblas, sel yang bertugas membentuk kolagen baru, mendapat lebih banyak pasokan oksigen dan nutrisi, dan rangsangan ini dilaporkan dapat mendorong produksi kolagen sampai tingkat tertentu. Fibroblas bisa dibayangkan sebagai pekerja yang langsung merajut kolagen, sang tiang penyangga kulit. Sama seperti pekerja yang bekerja lebih cepat saat bahan dan energinya lebih memadai, prinsipnya kurang lebih serupa.
Hasilnya, tekstur stretch mark yang tipis dan cekung secara khas dilaporkan terisi sedikit demi sedikit selama 8 hingga 12 minggu, dan warnanya pun cenderung memudar. Namun, reaksi ini umumnya lebih terlihat pada stretch mark yang masih relatif baru dan berwarna kemerahan atau keunguan, dibanding stretch mark lama yang sudah memutih dan mengeras.
Mengapa Jumlah Sesi dan Metode Berbeda di Setiap Area?
Karboksiterapi tidak diberikan dengan cara yang sama di setiap area tubuh, karena ketebalan lemak, kepadatan pembuluh darah, dan sensitivitas kulit berbeda-beda. Tiga alasan berikut menjelaskan perbedaan tersebut.
- Area dengan lapisan lemak tebal seperti perut atau paha membutuhkan jangkauan gas yang lebih luas, sehingga suntikan dilakukan di beberapa titik dan jumlah sesinya pun perlu lebih banyak, sekitar 10 hingga 15 kali. Semakin tebal lapisan lemak, semakin lama waktu yang diperlukan agar efek peningkatan sirkulasi menyebar merata.
- Area dengan lapisan lemak tipis seperti dagu ganda atau lengan atas cenderung menunjukkan respons lebih cepat meski dengan jumlah gas yang lebih sedikit. Ketika jaringan tipis, sel lemak target berada lebih rapat di dalam area penyebaran gas yang disuntikkan.
- Untuk masalah permukaan seperti selulit atau stretch mark, suntikan dilakukan pada kedalaman yang lebih dangkal dengan jarak antar titik yang lebih rapat. Karena masalahnya terkonsentrasi di lapisan dermis dan tepat di bawahnya, kedalaman suntikan harus disesuaikan agar efek peningkatan sirkulasi tepat mengenai area tersebut.
Secara umum, prosedur ini dilakukan dengan jeda 1 hingga 2 minggu antar sesi, sebanyak 8 hingga 12 kali. Perbaikan sirkulasi dan pemecahan lemak adalah proses yang bersifat kumulatif, sehingga diketahui bahwa hasilnya lebih dipengaruhi oleh pengulangan sesi dibanding satu kali prosedur saja.
Bagaimana Prosedurnya dan Apa yang Perlu Diperhatikan?
Prosedur dilakukan dengan jarum yang sangat halus, menyuntikkan gas secara singkat ke beberapa titik dengan jarak 1 hingga 2 cm di dalam area target. Segera setelah suntikan, gas yang menyebar di antara jaringan bisa menimbulkan sedikit rasa tertekan, sensasi menggelitik, hingga rasa seperti area tersebut mengembang. Sensasi ini bersifat sementara, muncul akibat karbon dioksida yang mengisi ruang antar jaringan, dan biasanya mereda dalam waktu 10 hingga 30 menit seiring gas terserap tubuh.
Setelah prosedur, area yang disuntik terkadang tampak sedikit kemerahan atau memar, yang merupakan reaksi alami akibat pelebaran pembuluh darah dan rangsangan mikro pada jaringan. Umumnya kondisi ini dilaporkan mereda dalam 2 hingga 5 hari. Namun, bagi yang memiliki gangguan sirkulasi, penyakit paru tertentu, atau sedang hamil, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis sebelum menjalani prosedur ini.
Karboksiterapi lebih tepat dipahami sebagai konsep perawatan untuk membantu sirkulasi, bukan prosedur yang bisa mengurangi lemak secara drastis dalam sekali sesi. Karena itu, hasilnya dilaporkan lebih stabil dan bertahan lama jika dibarengi dengan pola makan dan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup sehat.
References
Korean Dermatological Association, Ministry of Food and Drug Safety (MFDS), American Academy of Dermatology (AAD), and U.S. Food and Drug Administration (FDA).
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Prinsip Body Onda Memanaskan Lemak Perut dan Lengan dengan Gelombang Mikro, Jumlah Sesi, dan Lama Bertahannya Hasil
Body Onda adalah perawatan pembentukan tubuh non-bedah yang memanaskan lapisan lemak di bawah kulit secara selektif dengan gelombang mikro, sehingga sel lemak mengecil sekaligus kulit menjadi lebih kencang. Artikel ini membahas mengapa panas hanya menyasar lapisan lemak, mengapa pengurangan lemak dan pengencangan kulit terjadi bersamaan, bagaimana pendekatan berbeda di area perut, lengan atas, dan pinggang, serta berapa lama sesi dan hasilnya bertahan.
By Dr. Kim

Ultrasound Ulfit Body Diklaim Melarutkan Lemak Perut dan Paha, Sebenarnya Perlu Berapa Kali Sesi?
Ulfit Body HIFU adalah prosedur perawatan tubuh non bedah yang memusatkan panas ultrasound hanya pada lapisan lemak di bawah kulit, sehingga sel lemak mengecil secara bertahap. Artikel ini membahas kenapa ultrasound cuma memanaskan lapisan lemak, bagaimana lemak yang rusak dikeluarkan dari tubuh, apa bedanya pengaturan HIFU wajah dengan tubuh, serta berapa kali sesi dan berapa lama hasilnya bertahan.
By Dr. Kim

Bagaimana Kandungan dari Salmon dalam Rejuran Memperbaiki Tekstur Kulit dari Akarnya Meski Bukan Filler
Rejuran adalah prosedur yang menyuntikkan fragmen DNA dari salmon ke kulit, bukan untuk mengisi volume, melainkan untuk merangsang sinyal regenerasi itu sendiri. Artikel ini menjelaskan mengapa kandungan ini bisa memicu pembentukan kolagen baru, apa perbedaan tujuannya dengan filler, dan mengapa jumlah sesi serta jaraknya diatur seperti itu.
By Dr. Kim