Efek dan Efek Samping Laser Penghapus Tato, Berapa Panjang Gelombang per Warna dan Jumlah Sesi, serta Bagaimana Cara Merawatnya?
By Dr. Lee9 min read

Ada kalanya tato atau sulam alis permanen yang dulu disukai justru terasa membebani seiring waktu. Sekarang, laser sudah jadi metode standar untuk menghapusnya. Hanya saja, tato tidak hilang sekali proses, melainkan perlu beberapa kali sesi, dan hasilnya bisa berbeda tergantung warna, ada yang mudah pudar dan ada yang sulit hilang.
Kalau memahami prinsip kerjanya, kita jadi tahu mengapa dibutuhkan banyak sesi, mengapa warna hijau susah dihapus, dan mengapa proses menghapus sulam permanen perlu kehati-hatian ekstra. Daripada langsung menghapus tanpa persiapan, lebih tenang rasanya kalau sudah paham bahwa jumlah sesi dan hasilnya tergantung pada warna dan seberapa pekat tato yang dimiliki. Artikel ini merangkum dari jurnal ilmiah asli tentang bagaimana laser penghapus tato menghancurkan tinta, panjang gelombang apa yang dipakai untuk tiap warna, berapa kali sesi yang dibutuhkan, dan mengapa sulam permanen justru bisa berubah gelap.

Bagaimana Cara Kerja Laser Menghapus Tato?
Tato terbentuk dari partikel tinta yang tertanam di lapisan dermis kulit. Ukuran partikel ini terlalu besar untuk dibersihkan sel imun, sehingga bisa bertahan seumur hidup kalau dibiarkan. Tugas laser di sini adalah menghancurkan partikel tersebut menjadi bagian yang lebih kecil.
Kuncinya adalah memancarkan cahaya intensitas tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Laser Q-switched yang bekerja dalam hitungan nanodetik, atau laser picosecond yang bahkan lebih cepat lagi, menghasilkan gelombang kejut instan pada tinta sehingga partikel besar pecah menjadi serpihan kecil. Karena prinsipnya menghancurkan secara fisik, bukan membakar dengan panas, kerusakan pada kulit di sekitarnya jadi lebih minim.
Serpihan yang sudah hancur ini kemudian dibersihkan sedikit demi sedikit oleh sel imun selama beberapa minggu. Inilah alasan mengapa prosesnya perlu dibagi ke dalam beberapa sesi. Setelah satu sesi penghancuran, sel imun butuh waktu untuk membersihkannya, lalu setelah sebagian besar bersih baru dilakukan penghancuran berikutnya, sehingga tato memudar secara bertahap. Karena itu, tato tidak hilang langsung dalam satu kali proses, melainkan makin pudar seiring bertambahnya sesi.
Prinsip ini menjelaskan dua hal dalam proses penghapusan tato. Pertama, mengapa perlu jeda beberapa minggu antar sesi. Sel imun butuh waktu untuk mengangkut tinta yang sudah hancur, dan sesi berikutnya baru akan efektif setelah proses itu berjalan. Kedua, mengapa warnanya memudar secara bertahap. Tinta tidak hilang seperti sulap, melainkan melalui proses pengeluaran serpihan yang sudah hancur dari tubuh, dan itu memang butuh waktu. Kalau sudah memahami alur ini, tidak perlu terburu-buru merasa kecewa hanya karena tato belum hilang setelah satu dua kali sesi.

Mengapa Setiap Warna Membutuhkan Panjang Gelombang Berbeda?
Tinta akan hancur kalau laser memancarkan panjang gelombang cahaya yang paling diserap oleh warnanya. Karena itu, panjang gelombang yang dipakai disesuaikan dengan warna tato.
Untuk warna hitam dan biru tua yang paling umum, digunakan laser Nd:YAG 1064 nanometer. Panjang gelombang ini lebih sedikit tumpang tindih dengan pigmen melanin, sehingga relatif aman digunakan pada kulit gelap. Warna merah dan oranye lebih responsif terhadap 532 nanometer, sedangkan hijau dan biru muda lebih cocok dengan laser alexandrite 755 nanometer atau laser ruby 694 nanometer. Tato berwarna-warni yang mencampur banyak pigmen membutuhkan panjang gelombang berbeda untuk tiap warna, sehingga biasanya perlu menggunakan dua sampai tiga jenis panjang gelombang sekaligus.
Ada juga warna yang cenderung sulit dihapus, seperti hijau, biru muda, kuning, putih, dan warna neon. Warna-warna ini kurang optimal diserap oleh panjang gelombang laser yang tersedia saat ini. Warna putih atau warna terang khususnya justru lebih banyak memantulkan cahaya daripada menyerapnya, sehingga responsnya lemah. Karena itu, pada tato yang sama, garis luar hitam biasanya mudah hilang, tapi bagian berwarnanya sering kali masih tersisa.
Warna juga menjadi petunjuk penting untuk memperkirakan tingkat kesulitan penghapusan. Hitam dan biru tua paling responsif, merah dan oranye juga relatif mudah. Sebaliknya, hijau, biru muda, dan kuning cenderung butuh lebih banyak sesi atau bisa meninggalkan bekas. Karena itu, untuk tato dengan banyak warna, sebaiknya dipahami dulu bahwa tiap warna bisa memberi respons berbeda sebelum memulai prosesnya. Rentang warna yang bisa dihapus juga tergantung pada jenis panjang gelombang laser yang tersedia di klinik.

Apakah Laser Picosecond Lebih Efektif Menghapus Tato?
Belakangan ini banyak iklan yang menonjolkan laser picosecond. Berdasarkan jurnal ilmiah, picosecond memang sedikit lebih unggul, tapi bukan perbedaan yang dramatis. Seberapa besar manfaatnya juga tergantung jenis tatonya.
Ada penelitian dengan 49 subjek yang membagi tato yang sama menjadi dua bagian, satu sisi menggunakan picosecond dan sisi lainnya menggunakan nanosecond. Hasilnya, proporsi tato yang hilang lebih dari 75 persen adalah 33 persen untuk picosecond dan 14 persen untuk nanosecond. Khusus untuk tato monokrom hitam dan biru, perbedaannya lebih besar lagi, yaitu 34 persen berbanding 9 persen. Analisis gabungan skala besar juga menyimpulkan bahwa picosecond lebih unggul dibanding nanosecond terutama untuk warna-warna yang sulit seperti biru, hijau, dan kuning.
Namun, ada hal yang perlu dilihat secara berimbang. Bahkan pada hasil terbaiknya, tato yang hilang lebih dari 75 persen dengan picosecond hanya sekitar sepertiga dari total kasus. Sisanya belum hilang sebanyak itu. Penelitian perbandingan ini juga masih memiliki jumlah subjek yang terbatas, sehingga lebih tepat memandang picosecond bukan sebagai teknologi yang pasti lebih unggul, melainkan sebagai pilihan yang bisa mempersingkat jumlah sesi untuk warna-warna yang sulit.
Karena itu, yang lebih penting dari sekadar jenis alat adalah panjang gelombang dan pengaturan yang sesuai dengan tato yang dimiliki, serta pengalaman dokter yang menanganinya. Untuk tato yang didominasi warna hitam, laser Q-switched Nd:YAG saja sudah cukup aman dan efektif. Sebaliknya, untuk tato berwarna yang mengandung biru atau hijau, atau tato yang sudah beberapa kali dihapus tapi belum banyak berubah, picosecond bisa jadi pilihan yang membantu. Apa pun pilihannya, klinik yang menentukan jumlah sesi berdasarkan warna dan kondisi tato jauh lebih bisa dipercaya daripada yang menjanjikan tato hilang dalam beberapa kali sesi saja.

Berapa Kali Sesi yang Dibutuhkan Sampai Tato Hilang?
Ini bagian yang paling banyak ditanyakan, tapi jawabannya berbeda untuk setiap orang. Untungnya, ada kriteria yang sudah dirangkum dari penelitian untuk memperkirakan jumlah sesi, disebut skala Kirby-Desai. Skala ini melihat enam faktor, yaitu warna kulit, lokasi tato, warna tinta, jumlah tinta, ada tidaknya bekas luka, dan apakah tato dibuat di atas tato lama.
Secara umum, tato hitam kecil dan tipis yang dibuat amatir bisa memudar cukup banyak hanya dengan 3 sampai 5 sesi. Tato yang dibuat profesional dengan tinta pekat biasanya membutuhkan 6 sampai 12 sesi, bahkan bisa lebih lama lagi kalau kepadatan tintanya sangat tinggi. Pada satu penelitian yang berhasil menghapus lebih dari 95 persen tato, dibutuhkan rata-rata 8,9 kali sesi. Jarak antar sesi biasanya 6 sampai 8 minggu, untuk memberi waktu bagi sel imun membersihkan tinta yang sudah hancur.
Ada juga metode yang melakukan beberapa kali lintasan laser dalam satu sesi. Teknik yang melintas empat kali pada area yang sama dengan jeda 20 menit terbukti memberi hasil lebih baik dibanding hanya satu kali lintasan. Namun, karena energi yang masuk ke kulit lebih banyak dalam satu sesi, risiko efek sampingnya juga ikut meningkat, sehingga metode ini perlu digunakan dengan hati-hati sesuai kondisi kulit. Belakangan muncul juga model prediksi baru yang menganggap kepadatan tinta sebagai faktor paling penting, tapi secara garis besar tetap tidak jauh berbeda dari enam faktor di atas.

Mengapa Sulam Alis Permanen Butuh Kehati-hatian Lebih?
Menghapus sulam permanen di alis, garis mata, atau bibir lebih rumit dibanding tato biasa. Ini karena bisa muncul reaksi yang tidak terduga, yaitu paradoxical darkening.
Tinta sulam permanen yang menghasilkan warna kulit seperti krem, putih, atau merah muda biasanya mengandung iron oxide atau titanium dioxide. Saat terkena laser, kandungan ini bisa mengalami reduksi kimia dan justru berubah menjadi hitam atau abu-abu gelap. Jadi, alih-alih memudar, sulam alis yang terang bisa tiba-tiba berubah gelap. Fenomena ini sudah dilaporkan dalam jurnal ilmiah sejak tahun 1990-an dan merupakan risiko yang cukup dikenal.
Karena itu, standar penanganannya adalah melakukan uji coba kecil terlebih dahulu di area terbatas dan memastikan reaksinya sebelum melanjutkan ke area yang lebih luas. Ini karena kandungan tinta sulam permanen berbeda-beda tergantung merek dan cara pembuatannya, sehingga sulit dipastikan bahan apa saja yang terkandung di dalamnya. Untungnya, ada laporan yang menyebutkan tinta yang lebih baru sudah mengurangi penggunaan iron oxide dan titanium dioxide, sehingga risikonya menjadi lebih rendah dibanding dulu. Salah satu penelitian bahkan menemukan tidak ada kasus perubahan warna menjadi gelap pada 76 orang yang menghapus sulam alis dan garis mata. Meski begitu, risikonya belum sepenuhnya hilang, jadi tetap aman untuk tidak melewatkan uji coba kecil saat menghapus sulam permanen. Kalaupun warnanya sempat berubah gelap, biasanya akan kembali memudar jika terapi terus dilanjutkan.

Bagaimana Efek Samping dan Cara Perawatannya?
Laser penghapus tato secara umum tergolong aman, tapi ada beberapa reaksi yang perlu diketahui. Segera setelah tindakan, area yang disuntik bisa memutih lalu memerah, dan kadang muncul lepuh. Sebagian besar reaksi ini mereda dalam beberapa hari sampai sekitar sepuluh hari.
Perubahan pigmen juga bisa terjadi. Area yang diterapi bisa mengalami hipopigmentasi, yaitu warnanya memudar sementara, atau sebaliknya hiperpigmentasi yang membuatnya terlihat lebih gelap, dan keduanya umumnya bersifat sementara. Pada kulit yang lebih gelap, risiko perubahan pigmen ini lebih tinggi, sehingga digunakan panjang gelombang 1064 nanometer dibanding yang lebih pendek, dengan energi yang lebih konservatif dan jarak antar sesi yang lebih longgar. Hal ini juga penting untuk diperhatikan pada kulit orang Indonesia dan Asia pada umumnya. Bekas luka atau perubahan tekstur kulit tergolong jarang terjadi kalau pengaturan lasernya tepat. Setelah tindakan, melindungi kulit dari sinar matahari secara ketat dan tidak memaksa mengelupas keropeng bisa membantu mengurangi risiko perubahan pigmen.
Sebaiknya ekspektasi juga dijaga tetap realistis. Ada kalanya tato tidak hilang 100 persen sempurna dan masih menyisakan bayangan tipis, terutama pada tato yang berwarna-warni atau tintanya sangat pekat. Meski begitu, sebagian besar tato akan memudar signifikan setelah melalui beberapa sesi, dan tato hitam umumnya bisa hilang cukup bersih. Memilih panjang gelombang dan pengaturan yang sesuai dengan warna kulit serta kondisi tato, lalu menjalani prosesnya tanpa terburu-buru sambil menjaga jarak antar sesi, adalah cara paling aman untuk menghapus tato.
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Laser Genesis Itu Apa dan Efeknya Bagaimana, Apakah Benar Ampuh untuk Kemerahan, Pori-pori, dan Kerutan Halus?
Apa itu Laser Genesis, bagaimana laser non-ablatif 1064nm dengan panas lembut bisa mengatasi kemerahan, pori-pori, dan kerutan halus, dirangkum dengan mudah. Efeknya di mana kuat dan di mana lemah, apa bedanya dengan laser lain, berapa sesi yang dibutuhkan, dan efek samping apa yang mungkin terjadi, semua dijelaskan tanpa melebih-lebihkan.
By Dr. Kim

Niacinamide, satu bahan untuk mencerahkan, mengecilkan pori, dan memperkuat skin barrier sekaligus
Niacinamide (vitamin B3) bisa mencerahkan, memperkuat skin barrier, mengontrol sebum, meredakan jerawat, sampai memperlambat penuaan, semuanya dalam satu bahan. Berapa konsentrasi yang tepat, bolehkah dipakai bareng vitamin C atau retinol, dan bagaimana cara pakainya, semua dirangkum dari data jurnal ilmiah.
By Dr. Kim

Efek dan Efek Samping Botox Gummy Smile, di Otot Mana Disuntikkan dan Berapa Lama Bertahan?
Apakah botox bisa mengatasi gummy smile yang membuat gusi terlihat banyak saat tersenyum, penyebab apa yang cocok diterapi, otot pengangkat bibir atas mana yang disuntik dan berapa unit, termasuk titik Yonsei serta efek dan durasi bertahannya, dirangkum dari jurnal ilmiah asli.
By Dr. Kim