Radiesse dan CaHA Skin Booster: Cara Merangsang Kolagen untuk Mengencangkan Leher dan Kulit yang Kendur
By Dr. Lee13 min read

Leher dan punggung tangan adalah dua area yang paling cepat "mengkhianati" usia kita. Banyak pasien yang rutin merawat wajah, namun tanpa sadar membiarkan leher yang mulai berkerut dan punggung tangan yang tampak berongga karena urat dan tulang yang makin menonjol. Padahal, kedua area ini bisa membuat seseorang terlihat lebih tua dari usia sebenarnya, meski wajahnya tampak segar dan terawat. Suntikan yang kini semakin banyak dipilih untuk mengatasi masalah ini adalah Radiesse.
Kandungan utama Radiesse adalah CaHA, atau kalsium hidroksiapatit — komponen yang sama dengan yang menyusun tulang dan gigi kita, sehingga bukan bahan asing bagi tubuh. Radiesse bekerja dua arah sekaligus: memberikan volume langsung setelah disuntikkan, sekaligus merangsang kulit untuk membentuk kolagen baru dari dalam. Saat diencerkan lebih banyak, sifatnya bergeser dari pengisi volume menjadi skin booster yang memperbaiki tekstur dan kekenyalan kulit secara menyeluruh. Artikel ini membahas cara kerja Radiesse, seberapa kuat bukti klinisnya, dan apa yang membedakannya dari biostimulator lain — dari sudut pandang praktisi medis.

Apa Itu Radiesse dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Radiesse adalah suntikan yang terdiri dari mikrosfer kalsium berukuran sangat kecil, tersuspensi dalam gel sebagai pembawa. Saat disuntikkan, gel ini langsung mengisi area yang cekung untuk menciptakan volume seketika. Seiring waktu, gel diserap tubuh, dan mikrosfer yang tersisa di dalam dermis mulai merangsang fibroblas — sel yang bertugas membentuk kolagen. Dari rangsangan ini, kulit mulai memproduksi kolagen baru, sementara mikrosfer perlahan terurai menjadi kalsium dan fosfat — zat yang memang sudah ada di dalam tubuh — dan diserap secara alami dalam waktu sekitar satu tahun. Inilah keunikan Radiesse: dua efek sekaligus, volume instan dan pembentukan kolagen secara bertahap.
Ketika Radiesse diencerkan — biasanya dengan larutan saline atau anestesi lokal — karakternya berubah. Volume yang dihasilkan berkurang, tetapi suntikan bisa menyebar lebih merata ke area yang luas, sehingga fokusnya beralih ke perangsangan kolagen dan perbaikan elastisitas kulit secara menyeluruh. Teknik ini dikenal sebagai hyperdilute Radiesse, dan paling sering digunakan sebagai skin booster untuk leher, dékolté, dan punggung tangan.
Meski sama-sama masuk kategori kolagen stimulator, masing-masing produk punya keunggulan tersendiri. Sculptra bekerja murni melalui stimulasi kolagen tanpa volume langsung, dengan daya tahan yang bisa mencapai lebih dari dua tahun. Ellanse — yang juga populer di klinik estetika Indonesia — bekerja serupa dengan daya tahan bervariasi tergantung varian yang dipilih. Rejuran lebih condong ke regenerasi kulit dan peningkatan hidrasi daripada pengisian volume. Radiesse menempati posisi unik: volume instan sekaligus stimulasi kolagen, dengan basis data klinis yang paling solid untuk area leher, dékolté, dan punggung tangan.
Dari sisi keamanan, Radiesse sudah beredar cukup lama dan memiliki rekam jejak yang luas. Karena mikrosfer terurai menjadi kalsium dan fosfat yang memang ada di tubuh, tidak ada bahan asing yang tersisa selamanya. Namun satu hal penting yang perlu dipahami sejak awal: sekali disuntikkan, Radiesse tidak bisa dilarutkan seperti filler asam hialuronat (HA). Oleh karena itu, perencanaan yang matang — di mana, berapa banyak, dan dengan konsentrasi berapa — jauh lebih krusial dibanding filler konvensional.
Dalam terminologi medis, Radiesse tergolong biostimulator, yaitu zat yang merangsang tubuh untuk membangun jaringannya sendiri. Ketika mikrosfer bersarang di dermis, tubuh mengenalinya sebagai benda asing yang perlu "dikemas", lalu memanggil fibroblas ke area sekitarnya. Hasilnya bukan kolagen yang disuntikkan dari luar, melainkan kolagen yang dibuat sendiri oleh tubuh sebagai respons alami. Jika Sculptra fokus hanya pada stimulasi kolagen, Radiesse menambahkan volume langsung di atasnya sebagai bonus.
Tingkat pengenceran disesuaikan dengan tujuan. Untuk leher dan dékolté yang mengutamakan stimulasi kolagen dan perbaikan tekstur, pengenceran yang lebih banyak — dua hingga tiga kali lipat atau lebih — adalah pendekatan yang umum. Untuk area yang juga membutuhkan sedikit penambahan volume, pengenceran dikurangi. Fleksibilitas inilah yang membuat Radiesse bisa berfungsi sebagai filler volume maupun skin booster, tergantung bagaimana dokter mempersiapkannya.

Apakah Radiesse Benar-Benar Memicu Pembentukan Kolagen Baru?
Grafik di atas berasal dari studi yang membandingkan kulit yang disuntik Radiesse dengan kulit kontrol melalui biopsi, dua bulan setelah prosedur. Hasilnya cukup mencolok: kulit yang mendapat suntikan menunjukkan 34,4% kolagen tipe III baru, sementara kulit kontrol hanya 1,8%. Kolagen tipe III adalah serat kolagen awal yang muncul pertama kali saat kulit memulai proses regenerasi — persentase yang tinggi berarti proses pembentukan kolagen sedang aktif berlangsung. Perlu dicatat, studi ini melibatkan hanya 5 subjek, sehingga angka ini lebih tepat dibaca sebagai petunjuk arah daripada angka yang berlaku universal.
Kolagen yang terbentuk ini kemudian mengalami pematangan seiring waktu. Studi biopsi lain menunjukkan bahwa sekitar bulan keempat, kolagen tipe III yang lebih lunak mendominasi, lalu secara bertahap digantikan oleh kolagen tipe I yang lebih kuat dan padat pada bulan ketujuh. Dalam periode yang sama, elastin yang memberikan kekenyalan kulit dan pembuluh darah mikro yang memberi nutrisi juga ikut meningkat. Ini menunjukkan bahwa Radiesse tidak sekadar mengisi ruang kosong, melainkan membantu membangun kembali struktur dermis secara lebih menyeluruh.
Angka-angka dari studi lain juga searah. Skor kolagen tipe III meningkat dari 2,38 sebelum perawatan menjadi 5,26 pada bulan keempat — lebih dari dua kali lipat. Kolagen tipe I mencapai puncaknya di bulan ketujuh, sementara elastin dan penanda pembuluh mikro meningkat dalam periode yang sama. Radiesse tidak hanya menambah kolagen; ia sekaligus membantu memulihkan kerangka elastisitas dan suplai nutrisi kulit dari dalam.
Hubungan antara kolagen tipe III dan tipe I bisa diumpamakan seperti proses konstruksi bangunan. Tipe III adalah rangka sementara yang dipasang lebih dulu — cepat terbentuk namun belum kokoh. Lama-kelamaan, rangka ini digantikan oleh "beton bertulang" berupa kolagen tipe I yang jauh lebih kuat dan tahan lama. Inilah mengapa perubahan setelah Radiesse tidak terasa drastis di awal, namun terus berkembang selama beberapa bulan setelah suntikan.
Proses dua tahap ini juga menjelaskan mengapa efek Radiesse bisa bertahan lama. Setelah mikrosfer terurai sepenuhnya, kolagen yang sudah matang tetap ada dan terus menopang hasil perawatan. Manfaat Radiesse bukan sekadar dari efek volume awal, melainkan dari kolagen milik pasien sendiri yang terbentuk dan menguat seiring berjalannya waktu.

Seberapa Efektif untuk Leher dan Dékolté?
Area leher adalah salah satu indikasi terkuat Radiesse. Grafik di atas berasal dari studi yang mengamati pasien empat bulan setelah perawatan Radiesse hyperdilute di leher: 90,9% mengalami perbaikan keseluruhan, 86,4% menunjukkan perbaikan kerutan horizontal di leher, dan 81,8% mengalami pengurangan kendur kulit leher. Selain itu, 82% pasien dalam studi yang sama menyatakan sangat puas dengan hasilnya — angka kepuasan yang tinggi untuk prosedur non-bedah.
Ada alasan mengapa leher menjadi area yang sangat cocok untuk Radiesse. Kulit leher lebih tipis dari kulit wajah, miskin kelenjar minyak sehingga lebih mudah kering, dan terus-menerus bergerak saat berbicara maupun menoleh. Ditambah paparan sinar UV yang sering terabaikan, leher menjadi salah satu area pertama yang menunjukkan tanda penuaan. Karena sifatnya yang tipis dan dinamis, pengisian volume langsung di leher justru bisa terlihat tidak alami. Pendekatan hyperdilute Radiesse yang lebih mengutamakan perbaikan kualitas kulit daripada penambahan volume terbukti lebih sesuai untuk area ini.
Leher juga memiliki struktur yang membuatnya rentan secara khusus. Dermisnya lebih tipis dan lebih sedikit mengandung kolagen dibanding wajah, kelenjar sebaceanya jarang sehingga perlindungan alami terhadap kelembapan berkurang, dan posisinya yang selalu bergerak mempercepat terbentuknya lipatan dan garis kerutan. Radiesse hyperdilute bekerja bukan dengan mengisi, melainkan dengan menebalkan dan memperkuat lapisan dermis itu sendiri — pendekatan yang lebih tepat sasaran untuk kondisi ini.
Bukti dari area lain juga menggembirakan. Analisis dari beberapa studi klinis melaporkan tingkat perbaikan keseluruhan sekitar 90% untuk area wajah. Pada garis rahang, hampir semua pasien menunjukkan perbaikan satu tingkat atau lebih setelah beberapa bulan. Untuk punggung tangan, skor kondisi kulit membaik sekitar satu poin dibanding sebelum perawatan. Punggung tangan yang memperlihatkan tendon dan pembuluh darah secara mencolok cenderung terlihat lebih mulus saat ketebalan dermis meningkat dan kontur permukaannya menjadi lebih halus.
Dékolté — area dada bagian atas — juga sering dirawat dengan pendekatan yang sama. Kerutan vertikal akibat kebiasaan tidur miring dan paparan UV yang kerap luput dari perhatian membuat area ini sulit ditangani karena kulitnya tipis. Radiesse hyperdilute membantu memperbaiki tekstur dan mengurangi kerutan halus di dékolté. Namun, karena ketebalan dan tingkat pergerakan kulit berbeda di setiap area, penyesuaian konsentrasi dan kedalaman injeksi selalu diperlukan agar hasilnya terlihat natural.

Apakah Lapisan Dermis Benar-Benar Bertambah Tebal?
Perubahan yang terlihat di permukaan memang menarik, tapi pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah dermis benar-benar menebal secara terukur? Jawabannya ada pada studi yang sama. Menggunakan ultrasonografi untuk mengukur ketebalan dermis secara objektif, hasilnya menunjukkan peningkatan antara 9,6% hingga 23% tergantung lokasi, dengan rata-rata 14,9% di seluruh area leher yang dirawat. Ini bukan penilaian subjektif — ini pengukuran dengan alat. Kulit yang menipis seiring bertambahnya usia benar-benar bisa menebal kembali.
Yang menarik, peningkatan terbesar terjadi di bagian leher atas. Ini menunjukkan bahwa meski jumlah injeksi sama, respons kulit bervariasi tergantung kondisi awal dan tingkat kendur di masing-masing area. Itulah mengapa perencanaan yang dipersonalisasi — berapa banyak, di mana, dan dengan pengenceran berapa — sangat menentukan kualitas hasil akhir. Data objektif dari USG dan tingkat kepuasan pasien yang tinggi menunjuk ke arah yang sama, memperkuat keyakinan bahwa Radiesse sebagai skin booster leher memiliki dasar klinis yang solid.
Mengapa ketebalan dermis begitu penting? Dermis adalah lapisan pendukung kulit yang menentukan kekenyalan dan ketebalan. Saat menipis karena penuaan, kulit mulai terasa seperti kertas — mudah berkerut, kehilangan kekencangan, dan tidak lagi memantulkan cahaya secara merata. Saat ketebalan dermis pulih, kerutan yang sama tampak lebih dangkal, dan permukaan kulit terlihat lebih bercahaya dan halus — itulah efek "glowing" yang sering dirasakan pasien setelah perawatan.
Proses penebalan dermis ini sejalan dengan perubahan kolagen yang telah dibahas sebelumnya. Mikrosfer mengaktifkan fibroblas, fibroblas membentuk kolagen dan elastin baru, dan secara keseluruhan lapisan dermis pun menebal. Itulah mengapa perubahan tidak terasa drastis di hari pertama setelah suntikan, melainkan berkembang perlahan selama dua hingga tiga bulan — dan justru kealamiahan proses inilah yang membuat hasilnya terlihat natural. Seperti studi sebelumnya, penelitian ini juga dilakukan pada 22 subjek; angka 14,9% lebih tepat dibaca sebagai indikator arah yang konsisten, bukan standar absolut yang berlaku untuk semua orang.

Berapa Lama Efeknya Bertahan dan Apa Bedanya dengan Biostimulator Lain?
Ketahanan efek adalah salah satu keunggulan utama Radiesse. Efek volume awal bertahan sekitar satu tahun, dan kolagen yang terbentuk selama periode itu terus menopang hasil perawatan, sehingga efek keseluruhan umumnya bertahan 12 hingga 18 bulan. Dalam studi follow-up jangka panjang, 40% pasien masih menunjukkan perbaikan yang terukur pada bulan ke-30, dan selama pemantauan tiga tahun, tidak ditemukan satu pun kasus komplikasi serius seperti nodul persisten atau granuloma. Karena efeknya bertumpu pada kolagen yang dihasilkan sendiri oleh tubuh, daya tahannya cenderung lebih panjang dibanding filler konvensional.
Perbandingan dengan biostimulator dan filler lain bisa dirangkum seperti ini. Sculptra bekerja murni melalui stimulasi kolagen tanpa volume langsung, dengan ketahanan yang bisa mencapai lebih dari dua tahun. Ellanse — yang populer di klinik estetika Indonesia dengan berbagai pilihan durasi — juga termasuk kategori biostimulator dengan profil ketahanan yang bervariasi tergantung varian. Rejuran lebih difokuskan pada regenerasi kulit dan peningkatan hidrasi, bukan pengisian volume. Filler asam hialuronat standar — seperti Juvederm, Restylane, atau Belotero — memberikan volume langsung tanpa stimulasi kolagen, dan terurai relatif lebih cepat.
Perbedaan mendasar antara filler dan biostimulator perlu dipahami dengan jelas. Filler konvensional mengisi ruang yang kosong sekarang, sedangkan biostimulator seperti Radiesse memberikan kondisi agar kulit bisa membangun strukturnya sendiri seiring waktu. Volume instan filler memang lebih terasa langsung, tapi biostimulator menawarkan sesuatu yang berbeda: perubahan pada kualitas kulit itu sendiri. Pilihan mana yang lebih tepat bergantung pada tujuan — apakah mengutamakan volume yang cepat terlihat, atau kulit yang pelan-pelan membaik secara menyeluruh.
Posisi Radiesse cukup jelas. Ini adalah biostimulator yang menggabungkan volume instan dengan stimulasi kolagen, dengan data klinis paling solid untuk area leher, dékolté, dan punggung tangan. Jika tujuannya adalah pemulihan volume wajah yang dalam dan terstruktur, pilihan lain mungkin lebih tepat. Tapi untuk perbaikan tekstur, kekenyalan, dan kualitas kulit di area yang tipis dan dinamis, Radiesse memiliki keunggulan yang sulit disaingi.
Karena efeknya membutuhkan waktu untuk matang dan bertahan lama, perencanaan jangka panjang sangat dianjurkan. Umumnya, setelah satu sesi suntikan, dokter akan mengamati perkembangan selama beberapa bulan sebelum mempertimbangkan sesi penguatan berikutnya. Lebih sering bukan berarti lebih baik — memberikan waktu agar kolagen bisa terbentuk dan menguat justru menghasilkan efek yang lebih optimal dan natural. Selama masa pemulihan dan setelahnya, perlindungan dari sinar UV menjadi kunci: sinar matahari adalah salah satu faktor utama yang merusak kolagen baru yang baru saja terbentuk.
Mengenai biaya dan frekuensi perawatan, keduanya bervariasi tergantung area yang dirawat, tingkat pengenceran, dan jumlah produk yang digunakan. Karena efek Radiesse berkembang bertahap, jangan menilai hasilnya hanya dari minggu pertama atau kedua — evaluasi dua hingga tiga bulan setelah perawatan jauh lebih representatif. Mendokumentasikan kondisi kulit dengan foto sebelum dan sesudah perawatan sangat membantu untuk melihat perubahan yang berlangsung secara bertahap namun nyata.

Siapa Kandidat yang Tepat dan Apa yang Perlu Diperhatikan?
Radiesse paling cocok untuk pasien yang mulai merasakan penipisan kulit, kerutan halus, dan kelonggaran di leher, dékolté, atau punggung tangan. Mereka yang ingin memperbaiki kualitas kulit di area ini secara non-bedah — dengan tetap merasakan sedikit perubahan langsung sejak awal — akan menemukan Radiesse sebagai pilihan yang menarik. Radiesse juga digunakan untuk mempertegas garis rahang dan pipi melalui stimulasi kolagen yang meningkatkan kontur secara bertahap.
Sebaliknya, ada area yang sebaiknya dihindari. Bibir — yang sangat dinamis dan dekat dengan membran mukosa — memiliki risiko nodul yang lebih tinggi dan umumnya tidak direkomendasikan untuk Radiesse. Secara umum, nodul paling sering dilaporkan terjadi di area bibir, sementara di area skin booster seperti leher dan punggung tangan, risikonya jauh lebih rendah. Untuk pasien yang menginginkan pengisian volume wajah yang dalam dan terstruktur, filler HA seperti Juvederm atau Restylane tetap menjadi pilihan yang lebih sesuai.
Profil keamanan Radiesse secara keseluruhan cukup baik. Efek samping serius terjadi pada kurang dari 1% kasus. Yang paling perlu diwaspadai adalah nodul, dan risikonya dapat dikurangi secara signifikan dengan pengenceran yang cukup dan teknik injeksi yang merata ke seluruh area. Efek samping umum seperti bengkak, memar, dan nyeri ringan umumnya bersifat sementara dan mereda dalam beberapa hari. Komplikasi serius yang jarang terjadi — seperti nekrosis kulit atau gangguan penglihatan akibat injeksi yang mengenai pembuluh darah — menekankan betapa pentingnya memilih dokter yang benar-benar memahami anatomi vaskular wajah. Satu hal lagi yang krusial: tidak seperti filler HA yang bisa dilarutkan dengan hyaluronidase, Radiesse tidak memiliki antidot. Oleh karena itu, perencanaan yang cermat sejak awal — konsentrasi, kedalaman, dan lokasi injeksi — sangat menentukan hasil dan keamanan perawatan.
Teknik yang digunakan adalah injeksi produk yang sudah diencerkan menggunakan jarum halus atau kanula tumpul ke dalam lapisan dermis, disebarkan secara merata di area yang luas. Penyebaran yang merata dan pijatan lembut setelah injeksi adalah kunci untuk meminimalkan risiko nodul. Pasien yang sedang hamil, memiliki infeksi atau peradangan aktif di area yang akan dirawat, memiliki kecenderungan keloid, atau sedang mengonsumsi obat pengencer darah harus menginformasikan kondisi ini kepada dokter sebelum prosedur dimulai. Konsultasi yang menyeluruh — memahami apa yang bisa dicapai dan apa batasannya — adalah fondasi dari pengalaman perawatan yang memuaskan.
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Juvelook: Manfaat, Efek Samping, dan Bedanya dengan Sculptra — Seberapa Lama Hasilnya Bertahan?
Bagaimana PDLLA dan asam hialuronat dalam Juvelook bekerja bersama untuk memberikan kelembapan instan sekaligus merangsang kolagen secara bertahap, perbedaannya dengan Sculptra, dasar klinis beserta keterbatasannya, siapa yang cocok, dan apa saja efek samping yang perlu diketahui — dijelaskan dari sudut pandang medis.
By Dr. Kim

Sculptra: Efek, Efek Samping, dan Cara PLLA Merangsang Kolagen untuk Mengembalikan Volume Wajah
Bagaimana PLLA dalam Sculptra merangsang produksi kolagen baru di kulit, bukti klinis tentang efektivitas dan daya tahannya, siapa kandidat yang tepat, serta efek samping seperti nodul dan hal-hal yang perlu diperhatikan — dibahas dari sudut pandang medis.
By Dr. Lee

Manfaat dan Efek Samping Rejuran, Cara Kerja Suntikan DNA Salmon PDRN dalam Meregenerasi Sel Kulit Beserta Bukti Klinisnya
Bagaimana suntikan Rejuran dengan kandungan PDRN dari DNA salmon merangsang regenerasi kolagen dan pembuluh darah mikro di kulit, bukti penelitian klinis beserta batasannya, siapa yang cocok menerimanya, kapan efek mulai terasa, dan efek samping yang perlu dipahami — diulas lengkap dari perspektif medis.
By Dr. Kim