Prinsip Pico Toning Memecah Melanin dengan Pulsa Sangat Singkat untuk Menyamarkan Flek dan Melasma, serta Berapa Kali Sesinya
By Dr. Lee7 min read

Salah satu nama laser yang paling sering disebut di klinik kulit atau perawatan kecantikan belakangan ini adalah pico toning. Bagi yang punya keluhan flek, melasma, atau bintik pigmen kecil, kemungkinan besar pernah ditawari prosedur ini.
Namun banyak yang menjalani perawatan ini tanpa benar-benar tahu kenapa satuan piko detik (picosecond) yang terdengar asing itu dipakai, dan bagaimana cahaya sesingkat itu bisa menargetkan pigmen secara spesifik. Kalau memahami prinsip dasarnya, kita jadi mengerti kenapa prosedur ini bisa dipakai untuk berbagai jenis pigmen di wajah, termasuk melasma yang terkenal sensitif.
Sebenarnya Sepiko Detik Itu Sesingkat Apa?
Satu piko detik sama dengan sepertriliun detik. Angka ini memang sulit dibayangkan, tapi intinya cahaya menyala dan padam dalam rentang waktu sesingkat itu. Dibanding laser nano detik (seribu kali lebih lambat dari piko detik) yang dulu banyak dipakai, satu pulsa pico laser bisa ratusan kali lebih singkat.
Alasan pulsa dipotong sependek ini terletak pada perbedaan antara waktu cahaya ditembakkan dan waktu panas menyebar ke jaringan sekitar. Panas butuh waktu tertentu untuk merambat ke samping. Kalau cahaya ditembakkan jauh lebih singkat dari waktu itu, energi tidak sempat menyebar dan langsung terkonsentrasi penuh pada satu target saja. Bayangkan balon air, kalau ditekan pelan-pelan, air di dalamnya akan menyebar ke samping. Tapi kalau dipukul cepat dan keras, hanya bagian yang terkena pukulan itu yang bereaksi. Prinsipnya kurang lebih sama.
Bagaimana Pigmen Bisa Hancur Jadi Serpihan Kecil?
Pigmen melanin di dalam kulit adalah butiran sangat kecil berwarna hitam atau cokelat. Butiran ini punya sifat menyerap panjang gelombang cahaya tertentu jauh lebih kuat dibanding jaringan sekitarnya. Laser memanfaatkan sifat ini dengan memilih panjang gelombang yang paling mudah diserap melanin.
Ketika pulsa dipersingkat hingga level piko detik, reaksi yang terjadi di dalam butiran pigmen pun berubah. Energi yang sangat kuat terperangkap dalam sekejap di dalam butiran pigmen, sehingga alih-alih matang perlahan oleh panas, permukaan butiran itu justru meledak lewat gelombang kejut mikro. Gelombang kejut inilah yang memecah butiran pigmen menjadi serpihan-serpihan halus seperti debu. Pigmen yang tadinya satu gumpalan besar kini terpecah menjadi banyak potongan yang jauh lebih kecil. Potongan halus ini kemudian dikenali oleh sel pembersih tubuh, yaitu makrofag, yang perlahan menelannya dan membawanya keluar lewat sirkulasi getah bening. Proses ini berulang, dan lama-kelamaan pigmen pun memudar.
Kenapa Penghancuran Fotoakustik Lebih Menguntungkan Dibanding Panas?
Cara laser bereaksi dengan jaringan bisa dibagi menjadi dua kategori besar. Satu lewat panas yang mematangkan jaringan, satunya lagi lewat gelombang kejut yang menghancurkan. Istilah teknis untuk mekanisme gelombang kejut ini adalah efek fotoakustik (photoacoustic), yang berarti cahaya menciptakan gelombang tekanan sesaat, mirip seperti bunyi.
Laser nano detik generasi sebelumnya punya pulsa yang relatif lebih panjang, sehingga saat butiran pigmen menyerap cahaya, proporsi panas yang dihasilkan cukup besar. Panas ini tidak hanya mengenai pigmen target, tapi juga merembet ke sel kulit normal di sekitarnya. Sebaliknya, pico laser punya pulsa yang begitu singkat sehingga reaksi selesai lebih dulu lewat gelombang kejut, sebelum panas sempat menyebar. Itulah sebabnya, meski sama-sama menghancurkan pigmen, kerusakan panas pada jaringan sekitar dilaporkan relatif lebih ringan. Kerusakan panas yang lebih ringan biasanya berarti proses pemulihan setelah prosedur, seperti kemerahan, bengkak, atau keropeng, juga lebih ringan.
Kenapa Mode Toning Menembak Berulang dengan Energi Lebih Rendah?
Nama pico toning mengandung kata toning yang artinya penyesuaian bertahap. Alih-alih menembak sekali dengan energi tinggi, metode ini menembakkan cahaya berenergi lebih rendah sebanyak 2 hingga 4 kali dalam satu sesi, ditumpuk lapis demi lapis.
Kalau energi dipakai tinggi, satu butiran pigmen bisa hancur dengan cepat, tapi jaringan sekitarnya juga lebih mudah ikut teriritasi. Sebaliknya, kalau energinya diturunkan, butiran pigmen hanya hancur sedikit demi sedikit, tapi iritasi yang timbul juga jauh berkurang. Jadi kalau energi rendah ditembakkan 2 hingga 4 kali, sedikit demi sedikit pigmen yang pecah akan terakumulasi sehingga hasil akhirnya cukup sebanding, sementara iritasi yang tersisa jauh lebih minim. Bayangkan menuang air langsung dalam jumlah besar ke tanah akan membuat lubang yang dalam, tapi kalau jumlah air yang sama dituang sedikit-sedikit berkali-kali, tanah tidak akan berlubang sedalam itu. Logikanya kurang lebih sama.
Kalau ditembak dengan energi tinggi, terkadang kulit langsung terlihat sedikit memutih setelah prosedur. Semakin kuat reaksi ini, semakin lama pula waktu pemulihannya, dan risiko pigmen kembali menggelap akibat iritasi (rebound) juga makin besar. Sementara itu, mode toning berjalan tanpa reaksi yang mencolok, seolah memadatkan pigmen secara halus lewat 2 hingga 4 kali tembakan ringan, sehingga sangat cocok untuk pigmen yang sensitif terhadap rangsangan seperti melasma.
Kenapa Iritasi Harus Diminimalkan pada Melasma?
Melasma dikenal jauh lebih sulit ditangani dibanding kondisi pigmen lainnya. Sebab pigmen pada melasma bisa kembali menggelap bukan hanya karena paparan sinar UV, tapi juga karena panas, gesekan, dan peradangan. Sel penghasil melanin di kulit, yaitu melanosit, punya sifat justru memproduksi pigmen lebih banyak sebagai reaksi balik ketika terpapar rangsangan.
Karena itu, kalau prosedur dengan rangsangan panas yang kuat dipakai untuk melasma, hasilnya memang bisa memudar untuk sementara, tapi risiko pigmen kembali menggelap akibat iritasi juga lebih besar. Dari sinilah metode seperti pico toning, yang bekerja lebih mengandalkan gelombang kejut ketimbang panas, dianggap sebagai pilihan yang relatif lebih cocok untuk melasma. Namun karena penyebab dasar melasma tidak sepenuhnya hilang, lebih realistis untuk melihatnya sebagai proses memudar bertahap lewat 5 hingga 10 kali sesi, bukan berharap hilang total hanya dengan satu kali perawatan.
Kenapa Kecepatan Respons Flek dan Melasma Berbeda?
Meski sama-sama menjalani pico toning, flek biasa alias bintik pigmen sederhana yang letaknya di lapisan epidermis yang dangkal cenderung memberi respons lebih cepat. Ini karena pigmennya menumpuk di lapisan kulit yang dangkal sehingga mudah dijangkau cahaya, dan jalur pembuangan pigmen yang sudah pecah pun lebih pendek.
Sebaliknya, melasma sering kali menyebar bukan hanya di epidermis, tapi juga sampai ke lapisan dermis yang lebih dalam. Cahaya jadi relatif lebih sulit menjangkau kedalaman itu secara merata, ditambah sifat reaksi balik terhadap rangsangan yang sudah dijelaskan sebelumnya, sehingga responsnya lebih lambat dan perbedaan antarindividu cukup besar. Karena itu, saat menyusun rencana perawatan, flek biasanya diperkirakan tuntas dalam 1 hingga 3 kali sesi, sementara melasma lebih sering didekati dengan perspektif jangka panjang sejak awal.
Kenapa Jumlah Sesinya Tidak Cukup Sekali?
Butiran pigmen yang sudah pecah tidak langsung hilang begitu saja. Makrofag membutuhkan waktu untuk menelan potongan-potongan itu dan mengeluarkannya lewat sirkulasi getah bening. Karena itu, tidak jarang butuh 2 hingga 4 minggu setelah satu kali sesi sebelum perubahan yang terlihat mulai muncul.
Selain itu, pigmen sering kali tidak menyebar dengan ketebalan yang merata, melainkan menumpuk berlapis-lapis di dalam kulit, sehingga satu kali rangsangan saja tidak bisa memecah semua butiran pigmen secara merata. Berikut alasannya lebih rinci.
- Pigmen menumpuk dalam beberapa lapisan sesuai kedalamannya, sehingga satu kali sesi hanya menjangkau lapisan yang dangkal lebih dulu, sementara lapisan yang lebih dalam baru merespons pada sesi berikutnya.
- Tubuh butuh waktu 2 hingga 4 minggu untuk mengeluarkan potongan pigmen yang sudah pecah, sehingga menunggu siklus pembuangan itu sebelum sesi berikutnya justru membuat hasilnya lebih efisien.
- Melanosit atau sel penghasil pigmen itu sendiri tidak hilang hanya karena satu kali prosedur, jadi untuk menekan pigmen baru yang mungkin muncul, perawatan berulang dengan jeda tertentu tetap diperlukan.
Karena alasan-alasan ini, umumnya disarankan mengulang sesi sebanyak 5 hingga 10 kali dengan jeda sekitar 2 hingga 4 minggu.
Kenapa Intensitasnya Disesuaikan Menurut Warna Kulit?
Melanin tidak hanya ada di dalam lesi pigmen seperti flek atau melasma, tapi juga tersebar luas di seluruh epidermis yang menentukan warna kulit secara keseluruhan. Semakin gelap warna kulit seseorang, semakin banyak pula melanin latar belakang ini.
Cahaya laser tidak bisa memilih secara sempurna hanya pigmen di dalam lesi saja, dan tetap akan bereaksi sedikit dengan melanin latar belakang di sekitarnya. Karena itu, kalau intensitas yang sama dengan kulit cerah digunakan pada kulit yang lebih gelap, kulit normal di sekitar lesi bisa ikut teriritasi, dan justru berisiko membuat pigmen tampak belang-belang atau kembali menggelap. Untuk menghindari hal ini, sebelum prosedur biasanya dilakukan pemeriksaan warna kulit, kedalaman lesi pigmen, dan riwayat pigmentasi yang pernah muncul sebelumnya, agar intensitasnya bisa disesuaikan untuk masing-masing orang. Inilah alasan kenapa pengaturan pico toning bisa berbeda-beda meski prosedurnya sama.
Bagian Mana yang Perlu Diperhatikan dalam Perawatan Setelah Prosedur?
Pico toning memang dikenal punya masa pemulihan yang lebih ringan dibanding jenis laser lain, tapi bukan berarti sama sekali tidak menimbulkan rangsangan. Segera setelah prosedur, lapisan pelindung kulit untuk sementara melemah, sehingga kulit bisa lebih sensitif dari biasanya terhadap sinar UV maupun gesekan.
Karena itu, setelah prosedur disarankan mengaplikasikan ulang tabir surya lebih rutin dari biasanya, dan menghindari aktivitas dengan rangsangan panas tinggi seperti kompres panas atau sauna selama sekitar 1 minggu, karena hal ini membantu proses pemulihan. Khususnya bagi yang punya melasma, pigmen bisa kembali menggelap akibat reaksi terhadap panas dan rangsangan, sehingga perawatan pascaprosedur perlu dijaga lebih hati-hati.
References
Korean Dermatological Association, Ministry of Food and Drug Safety (MFDS), American Academy of Dermatology (AAD), and U.S. Food and Drug Administration (FDA).
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Cara Kerja IPL Mengatasi Flek, Kemerahan, dan Pori Besar Sekaligus, Serta Batasnya yang Jelas
IPL bukan alat yang hanya menembakkan satu panjang gelombang seperti laser, melainkan memancarkan cahaya dengan rentang lebar sekaligus. Karena itu melanin dan hemoglobin, dua target yang berbeda, bisa tersentuh dalam satu waktu. Memahami prinsip ini akan menjelaskan mengapa satu alat bisa menangani beberapa keluhan kulit sekaligus.
By Dr. Kim

Hollywood Spectra Carbon Peel dan Toning, Prinsip dan Efeknya untuk Melasma serta Pori
Hollywood Spectra adalah laser Q-switched Nd:YAG dengan panjang gelombang 1064nm dan 532nm yang biasa dipakai untuk carbon peel, yaitu mengoleskan losion karbon lalu menyinari kulit berulang kali dengan energi rendah. Artikel ini merangkum prinsip kerjanya untuk melasma, pigmentasi, pori, dan warna kulit, lengkap dengan angka penelitian nyata beserta batasannya.
By Dr. Lee

Terapi Laser Jamur Kuku, Prinsip Panas Membasmi Jamur Tanpa Obat Minum, Tingkat Kesembuhan, dan Cara Mencegah Kekambuhan
Artikel ini menjelaskan dengan mudah kenapa laser dipakai untuk jamur kuku (onychomycosis) yang membuat kuku menguning dan menebal, bagaimana laser Nd:YAG 1064 nm membasmi jamur dengan panas, seberapa besar tingkat kesembuhannya dibanding obat minum terbinafine dan obat oles, berapa kali dan dengan jarak berapa sesi dijalani, sampai perawatan pendamping untuk mencegah kekambuhan dan menjaga hasil tetap awet, semuanya berdasarkan angka dari penelitian asli.
By Dr. Lee